GOOD BYE by EGHA

di dedikasikan untuk diriku sendiri, beserta segenap memori di masa lalu

GOOD BYE

Terlalu sulit untuk melupakannya

Namun terlalu sulit untuk membiarkannya terus melekat dalam hati

Tak ada lagi yang bisa kulakukan

Membiarkannya meleleh tak berbekas pun mustahil

Selamat tinggal…..

Kenangan, aku sudah berusaha menjauhimu

Meski jejak jejak itu masih membubuhi sisa pijakanku

Ku harap serbuk keemasan yang pernah menggelapkan pandanganku ini akan berkurang….bahkan menghilang tersapu hembusan angin

🙂

Advertisements
Aside | Posted on by | Leave a comment

In Your Eyes [FF/S/PG-15/ 1]

  • Disclaimer : THIS FF is MINE, PLOT is MINE, DO NOT COPY CAT WITHOUT PERMISSION
  • Warning : This story is 100% my imagination, if you like this story please coment but not bashing and plagiat.Thank You for that
  • Genre : Romance, Sad
  • Author : myself “Egha aka Choi Sae Rin

“Bahkan untuk hidup bersanding denganmu aku tak pantas”, mata sayunyanya menerawang ke jendela, seberkas sinar senja menyinari sebelah wajahnya. Ia tak mau air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya jatuh saat ini, tepat dihadapan pria yang begitu dicintainya.

“Apa maksudmu?? Sekian lama aku mencarimu….kau tahu?? Aku hampir gila”, keluh lelaki itu mencengkeram bahunya. Lengan laki-laki itu bergetar menahan kekesalan. “Selama hampir 2 tahun kau menghilang, sekarang…..lihat aku!!! Lihat!!!”, ucapnya setengah berteriak. Ia membalikkan tubuh gadis yang kini membelakanginya.

“…….maaf….”, sahut gadis itu. Buliran airmatanya mulai beranak pinak membasahi pipi.

***** *****

                Pagi yang cerah, Shin Min Gi tengah bersiap saat telepon di apartementnya berdering. Ia berjalan menuju meja telepon sambil melepas rol rambutnya.

“Uhm, yeoboseyo….”, jawabnya seraya berkaca.

“Kemana ponselmu??? Apa kau sudah menjualnya? Kau tidak lupa kan ini hari apa?”, racau wanita diseberang telepon.

“Ponselku tercebur di kloset”, Min Gi mengekeh pelan. “Tentu saja aku ingat, ini hari kamis!”. Terdengar suara desahan diseberang telepon.

“Ahh…sudah kuduga kau pasti lupa!!”, jerit suara diseberang telepon itu mulai panik.

“Tidak!! Kau salah! Tentu saja aku ingat….aku hanya mengerjaimu”, Min Gi tertawa, tawanya lebih mirip orang sesak nafas. “Bagaimana mungkin aku melupakan sesuatu yang hanya akan sekali kulakukan seumur hidupku??!!Yoo ra~yah aku tidak sepikun itu!”.

“Ohhhh….syukurlah, setidaknya aku tidak sia-sia datang ketempat ini duluan, jangan berdandan lama-lama! Air liurku menetes melihat wedding dress mu!”, pekik wanita bernama YooRa itu.

“Iya-iya, aku tahu”, sahut Min Gi dan sedetik kemudian ia menutup sambungan teleponnya. Ia mulai sibuk mengenakan maskaranya.

—-

                “Ya Tuhaaannnn!! Aku tak terima!!!”, jerit YooRa saat melihat Min Gi mengenakan gaun pengantin. “Ini baru fitting baju…tapi kenapa kau cantik sekali!!!!”, YooRa iri melihat sahabatnya itu.

“Kau ini jahat, apa itu berarti aku tidak boleh terlihat cantik di hari pernikahanku besok??”, Min Gi mengerucutkan bibirnya.

“Tidak, bukan begitu. Apa kau tidak bisa melihat wajahku yang bahagia ini? Melihatmu seperti ini membuatku iri. Aku jadi ingin menikah”, YooRa tersenyum. “Yoo Hwan akan menyesal jika tidak jadi menikahimu. Ngomong-ngomong kemana kakakku yang bodoh itu?”, YooRa merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.

“Jangan! Jangan hubungi dia. Aku memintanya untuk tidak datang! Kasihan, dia terlalu sibuk mengurus pekerjaan sebelum cuti menikah”.

“Kalau begitu, kita abadikan dulu wujudmu yang seperti ini”, YooRa berlari kecil kearah sofa untuk mengambil kamera digitalnya. “Tetap disitu, dan tersenyumlah semanis mungkin”, YooRa memberi aba-aba. Min Gi melebarkan senyumnya mengikuti arahan YooRa. “Kalau aku menikah nanti, aku harus lebih cantik darimu”, imbuh Yoora sambil terus membidik gambar.

“Iya…kau harus!!”, Min Gi tertawa geli melihat sahabatnya itu. “Oh…kita juga harus foto bersama dengan gaun pendamping pengantinmu itu”, tunjuk Min Gi pada sebuah gaun merah muda polos yang masih tergantung. Min Gi beringsut hendak mengambil gantungan gaun itu, tapi belum sempat ia menyambarnya kepala gadis itu mendadak pening. Pandangannya kabur dan menghitam sejenak membuat tubuhnya goyah dan hampir limbung. “Uhh”.

“Min Gi~ya, kau kenapa??”, YooRa segera menghampirinya dan memapah Min Gi menuju sofa. Dahi Min Gi berkerut, ia terlihat memijit-mijit pelipis kanannya.

“Hmmh….mungkin aku kecapaian. Semalaman aku begadang”, ia melepas jemari dari pelipisnya dan tersenyum. “Kkokjongman”, imbuhnya sambil menggeser tubuhnya lebih nyaman diatas sofa.

“Ya Tuhaaaannn! Kau ini, pernikahanmu tinggal 2 hari lagi!”, kata YooRa gemas.”Kau tidak boleh menyia-nyiakan kesehatanmu!”, imbuh YooRa sambil memanggil seorang wanita pegawai di Butik itu dengan isyarat tangan. “Boleh aku minta segelas air putih?”. Pegawai wanita itu mengangguk kemudian pergi menghilang dibalik pintu ruang fitting.

“Hehe…aku tidak bisa tidur semalaman, terlalu banyak cafein”, Min Gi menghela nafas. Beberapa detik kemudian seorang pegawai wanita tadi mengetuk pintu dan masuk membawa nampan berisi segelas air putih. “Oh, terimakasih”, Min Gi memberikan senyumnya sebelum pegawai itu memohon diri untuk pergi.

“Kau harus ke dokter setelah ini”, YooRa menepuk pelan bahu Min Gi. “Aku tidak mau calon kakak iparku ini terlihat seperti pasien rumah sakit saat di upacara pernikahan besok”, tambahnya sambil mengerling konyol.

“Aku janji”, jawab Min Gi. Sebenarnya ia sendiri kurang yakin akan hal ini. Rasa sakit di kepalanyalah yang membuat ia tidak bisa tidur semalaman dan memaksanya harus menenggak 2 pil pereda sakit sekaligus untuk itu.

***

Shin Min Gi berjalan gontai. Matanya menerawang garis-garis porselen rumah sakit yang ia jejaki. Masih jelas terngiang saat dokter tua di ruang pemeriksaan itu memvonisnya mengidap penyakit yang sama yang telah merenggut ibunya.

“Eomma…begitu banyak hal baik yang kau miliki, kenapa harus ini yang kau turunkan padaku…”, gumamnya tercekat. Bayangan pernikahan didepan matanya membuat Min Gi berlinang air mata.

“Oppaaa~….eotteohkajyo?”, Min Gi terduduk dan mulai terisak mengingat wajah Yoo Hwan yang berkelebat dibenaknya. Ia putus asa, penyakit yang ia sebut iblis ketika menyerang ibunya itu, kini di idapnya juga. Bagaimanapun pengobatan yang dijalani, penyakit itu tetap saja membunuh ibunya.

*******

                “…….maaf….”, sahut Min Gi. Buliran airmatanya mulai beranak pinak membasahi pipi.

“Apa salahku?”, Yoo Hwan mengguncang tubuh kurus Min Gi. “Kenapa kau pergi?”, YooHwan hilang kendali, ia berteriak sambil terus mengguncangkan tubuh Min Gi. Tubuh YooHwan merosot kebawah, laki-laki itu mencengkeram tangan Min Gi dengan wajah menunduk. Air mata kecewa dan keputus-asaan yang selama ini ia pendam meleleh begitu saja.

Min Gi makin terisak melihat keadaan Yoo Hwan yang tidak lebih baik darinya. 2 tahun lalu ia meninggalkan YooHwan di upacara pernikahan, sebelum YooHwan sempat melihatnya memakai gaun pengantin.

“Apa ini karena pria lain?”, YooHwan mengangkat wajahnya, menatap Min Gi. “Katakan….apa alasanmu?”.

“Bukan”, Min Gi membalas tatapan Yoo Hwan. Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari Yoo Hwan.

“Lalu, kenapa kau tega meninggalkanku??”, Yoohwan berdiri melepas genggaman tangannya dan memegangi kepalanya frustasi. “Nomor ponselmu, rumahmu, kantormu, dimana kau selama ini?”.

“Tidak bisakah kau hanya melupakanku saja? Dan anggap aku tak pernah ada dihidupmu?”, Min Gi putus asa, ia sendiri tak tahu apa yang sedang ia bicarakan barusan, bertolak belakang dengan kata hatinya.

“Apa kau gila? Itu mustahil buatku”, Yoo Hwan menatap Min Gi serius. Ia rasa gadis yang dicintainya sedikit kehilangan akal sehatnya semenjak menghilang beberapa tahun terakhir.

“Ya! Tentu….aku memang gila….aku gila…..aku bahkan terlalu idiot untuk jadi orang waras…”, racau Min Gi, tubuhnya merosot lemah dan ia mulai terisak lagi. Yoo Hwan iba melihatnya seperti itu. Rasa kecewanya tak lebih besar dari rasa cintanya pada Min Gi. Pria itu mensejajarkan tubuhnya dengan  Min Gi dan merengkuh tubuh gadis kurus dihadapannya itu.

“Dan aku mencintai wanita gila yang sudah meninggalkanku ini”, matanya mulai basah lagi.

“Aku menginggalkanmu bukan karna tertarik pada pria lain, juga bukan karena ….aku tak lagi mencintaimu…”, Min Gi masih terisak. Yoo Hwan menggeser poni Min Gi yang menghalangi pandangan matanya. Laki-laki itu menatap mata Min Gi seksama.

“Apa? Lalu apa alasannya?”, suara Yoo Hwan terdengar lirih.

Min Gi menatap kedua mata Yoo Hwan dalam diam, sementara bulir air matanya terus menetes. “Apa kau mau….menyerahkan hidupmu pada wanita yang akan segera mati?”, Min Gi mulai berterus terang, ia tak yakin akan betah berlama-lama memendam kepedihannya sendiri. Yoo Hwan terkesiap, ia segera melonggarkan pelukannya dan menatap gadis itu dengan serius.

“Apa maksudmu?”, Yoo Hwan mengerutkan dahinya, sepertinya ia salah dengar.

“..a…aku….menderita penyakit yang sama dengan ibuku”, Min Gi menunduk, ia tidak sanggup melihat tatapan Yoo Hwan kali ini.

“???”, Yoo Hwan terhenyak, lidahnya kelu saat mendengar ucapan Min Gi barusan.

“Kau tahu kan…..bagaimana ibuku meninggal?”, imbuh Min Gi, gadis itu melempar tatapannya di kaki sofa yang berada disampingnya, tangannya gemetar. Yoo Hwan tak lagi sanggup berkata-kata, kepalanya terasa penuh. Hal yang tidak menyenangkan hari ini bercampur aduk dihatinya. Semuanya sulit untuk ia cerna.

***

                “Apa kau serius?”, Min Gi mendongakkan kepalanya menatap Yoo Hwan yang sedang berbaring memeluknya.

“Aku tak bisa lagi menemukan wanita yang bisa kucintai sepertimu”, Yoo Hwan mengeratkan pelukannya.

“Lantas….kau akan hidup dengan wanita dengan tulang belulang seperti ini?”, ucap Min Gi bergetar, ia tak yakin.

“Mari kita lakukan jadwal penggemukan!” Yoo Hwan tersenyum.

“Aku tidak seksi untuk jadi istri idaman..,m”, Min Gi belum selesai melanjutkan kata-katanya saat telunjuk Yoo Hwan membungkamnya.

“Kau seksi bagiku”, YooHwan mengerling nakal dan menyentil hidung Min Gi gemas.

“Beberapa saat lagi rambutku akan mulai botak”, imbuh Min Gi murung.

“Apa kau mau pakai rambutku??”, YooHwan mendekatkan kepalanya kearah kepala Min Gi dan membenturkannya pelan. “Atau aku ikut botak saja ya, kita pasti jadi anak kembar yang menggemaskan”, Yoo Hwan terkekeh, tapi sebenarnya hatinya miris. “Apapun yang terjadi kita akan menikah”, Yoo Hwan mengencangkan lengannya untuk semakin mendekap Min Gi ke dalam pelukannya. “Kau, aku, bahkan orang lain tak akan pernah ada yang tahu akhir hidup manusia”.

“Maafkan aku…”, gumam Min Gi serak, setetes bening air mata mengalir dari sudut matanya.

“Berjanjilah jangan pernah lari dariku lagi”, Yoo Hwan memejamkan matanya, mencoba mengatur irama nafasnya senormal mungkin. Ia takut Min Gi menangkap kesedihannya.

“Saat aku tak bisa apa-apa lagi…….tinggalkanlah aku”, ucap Min Gi tersekat.

“Kenapa kau kejam sekali? Kau berniat membunuhku?”, Yoo Hwan membelalakkan matanya. “2 tahun mencarimu cukup membuatku gila, jika sudah bertemu seperti ini….mana mungkin kulepaskan!!”, Yoo Hwan gemas mendekap kepala Min Gi, menenggelamkan kepala gadis itu di dadanya.

“Uhuuk..uhuk…kalau…begini..hmphh…kau yang akan membunuhku…” Min Gi merutuk protes, ia kesulitan bernafas. Yoo Hwan kemudian merenggangkan dekapannya dan membelai pipi gadis itu.

“Min Gi~ya”, ucap Yoohwan manis. Min Gi menatapnya heran, pria dihadapannya memasang tampang yang selama ini sangat dirindukannya.

“Uhm??”.

“Panggil aku oppa! Sudah lama aku tak mendengarnya”, rengek Yoo Hwan.

Min Gi tersenyum geli melihatnya, “Oppaaa~ oppaaaa~”, seru Min Gi. Ia benar-bena merasa senang mengucapkannya.

“Gaunmu yang dulu….begitu menempel ditubuhmu, masih begitu cantik Min Gi~yah”, Yoora meremat jemari Min Gi, matanya mulai berkaca-kaca. Ia sudah menahannya sekeras hati, ini tidak lucu kalau makeupnya luntur. Padahal ia sudah semalaman bersama Min Gi dan menangisi nasib sahabatnya itu.

“Aku yang akan menikah, kenapa kau yang menangis?”, Min Gi tersenyum, di usapnya genangan airmata di sudut mata YooRa. “Aku begitu berterimakasih pada kalian, ibumu, kakakmu, dan kau. Kalian masih mau menerimaku yang seperti ini”, Min Gi tersenyum getir. Bagaimanapun juga ia bahagia hari ini, meski ada sesuatu  yang mengganjal hatinya.

“Aku sudah menunggu-nunggu hari ini, hari di saat kau jadi kakak ipar resmiku”, YooRa memeluk Min Gi sambil mengusap lembut punggung gadis itu. “Kali ini aku harus mengawalmu dengan ketat, supaya kau tidak kabur lagi. Jika kau melakukan kesalahan yang sama lagi…..bunuh saja kami!”, YooRa mengancam.

“Aku benar-benar minta maaf atas semuanya”, Min Gi mendesah. Ia sangat menyesal setelah semalam YooRa menceritakan penderitaan YooHwan semenjak batalnya acara pernikahan mereka. Beberapa keluarga dipihak YooHwan menekan pria itu karena rasa malu yang mereka tanggung, banyak cibiran tidak mengenakkan dari para tamu undangan yang sampai ke telinga mereka. YooHwan bahkan sempat masuk rumah sakit saat ia memaksakan dirinya untuk bekerja siang dan malam demi mengenyahkan pikirannya terhadap Min Gi.

“Dia pikir, kau diculik seseorang yang amat mengagumimu. Kau tahu? dia lapor polisi dengan wajah ketakutan, dan pucat pasi. Tapi kemudian dia memutuskan untuk mencarimu dengan tangannya sendiri, dia merasa ada sesuatu yang salah dengannya sampai kau meninggalkannya begitu”, itu ucapan YooRa semalam yang masih Min Gi ingat. Min Gi sangat terpukul saat itu, Ia tak tahu kalau cinta YooHwan padanya begitu besar. Ia pikir, ia dapat meninggalkan pria itu dan Yoohwan akan dengan mudah mencari wanita lain pengganti dirinya.

“Jangan minta maaf lagi, yang terpenting sekarang kau ada disini”, YooRa menggenggam dan menepuk punggung tangan Min Gi lembut.

*** *** *** ***

                Musim dingin kali ini membuat Min Gi bergidik, udara dingin tetap saja mampu menyusup kedalam coat tebal yang ia kenakan. Sapuan nafasnya mengepul-ngepul seperti asap yang bergulung di udara. Min Gi berulang kali menggosok-gosokkan tangannya. Sudah satu jam ia menunggu di halte bus, ia bolak balik menatap layar ponselnya.

“Oh, ayolah”, Min Gi menggigit bibir bawahnya menahan dingin. Ia mendekatkan ponsel ke telinganya setelah menekan dial up terakhir. “O…seonbaenim, aku beku disini. Kenapa kau lama sekali?”, ujarnya protes pada seseorang diseberang telepon. “Uhmm”, ucapnya lagi beberapa saat kemudian dan memutus sambungan teleponnya. “lima menit lagi…..kuharap kau tepat waktu”.

Sekitar 10 menit kemudian sebuah mobil sedan putih berhenti tepat didepannya. Min Gi yang menyadarinya secepat kilat menghampiri mobil itu dan masuk kedalamnya. “Oh akhirnya”, desahnya lega.

“Kau menunggu lama ya? Hehe…maafkan aku…kau tahu kan aku sibuuuuk”, bela seorang pria berkacamata sambil mengemudikan mobilnya kembali.

“Kau bilang lima menit….lima menit apanya??”, protes Min Gi kesal.

“Yak! Aku kan sudah membantumu….kenapa kau marah-marah padaku?”, pria itu balik menggerundel.

“Hmhhhh..iya..iya”, Min Gi pasrah, di situasi ini dia tidak bisa memarahi mantan senior SMA nya ini. Seminggu sebelumnya ia mendapatkan tugas riset dari pimpinan di kantornya, dan seniornyalah yang pertama kali muncul dipikirannya untuk dapat dimintai pertolongan. “Young Su seonbae….kau tidak ikhlas ya menolongku”, imbuh Min Gi sambil menekuk mukanya, pria bernama Young Su itu menoleh menatapnya.

“Bukan begitu, setidaknya kau mengerti keadaanku sedikit”, balas Young Su terlihat sedikit tidak enak hati. “Omong-omong, risetmu itu mau bagaimana?”, tanyanya mengalihkan suasana yang mulai kurang enak.

“Mmmm…aku cuma mau minta data dari perusahaan temanmu itu”, Min Gi menunjukkan map berisi kertas tebal yang dibendel menjadi satu. “Ini modal risetku, kuharap temanmu itu baik hati mengijinkanku mengganggu anak buahnya”, Min Gi meletakkan kembali map yang cukup berat itu diatas pangkuannya.

“Dia masih muda dan baik hati….tenang saja”, Young Su mengekeh pelan.

TBC
To Be Continued
Thanks for reading 🙂
happy to leave a comment for me ^^

Posted in Uncategorized | Leave a comment